• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Cinta - Tanpa Kata

    Dibawah ini adalah sebuah cerpen cinta yang telah dikirimkan oleh seorang yang bernama Mutia Chanz dengan judul tanpa kata, silahkan dibaca sampai selesai yah :

    TANPA KATA
    Karya Mutia Chanz

    Waktu terus mempercepat detak jantungku, tak ada kata yang pas untuk menggambarkan situasi yang mulai panas .

    Seiring berjalan waktu aku sekarang paham apa artinya cinta. Yang mulai harus kujalani seperti ini, aku tak ingin mempermainkan air mata yang jatuh sia-sia tepat di hadapan insan yang berhak meninggalkanku.

    ‘’Kenapa sih kamu permainkan Silvia, dia itu gadis baik kak.’’ Aku mulai memberontak saat kakak ku mulai bergandeng mesra dengan pasangan berbeda hari ini .
    ‘’Jangan ikut campur deh, Silvia tenang-tenang aja kok.’’ Ujarnya dan berlalu dari hadapanku .

    Silvia dan aku adalah sohib kental, saat Silvia mampir ke rumah ku untuk pertama kalinya, Rizky kakakku playboy cap mata elang itu pun langsung menggebet dan menanyaiku soal Silvia.

    ‘’Indi, kenalin dong Silvia sama aku ,aku juga pingin dapet pacar ABG.’’ Ujarnya sambil mencubit lenganku.
    ‘’Ihh, tapi loe harus janji, jangan macam –macam sama Silvia, jangan sakitin perasaanya, jangan buat dia kecewa.’’ gerutuku kesal, saat harus dipaksa mengenalkan seorang kakak kepada sohib karibku itu .

    Dan setelah setahun mereka berkenalan, ada wajah sumringah yang digambarkan Silvia, wajah lugunya kian merona dan Silvia yang dulu telah hilang berganti dengan Silvia yang cantik karena senyuman indahnya.

    Hari–hari berlalu dan tak terasa, dua tahun hubungan perjalanan cinta mereka.

    Walaupun, aku selalu memberitahukan kakakku untuk menjaga kesetiaannya dengan Silvia .

    ‘’Kemarin loe ngedate sama Joana, gimana lancar gak?’’ ledek ku saat membuka percakapan antara kami berdua.
    ‘’Lancar–lancar aja tuh, gue sama dia cuma bahas tugas makalah kuliah kok.’’Rizky menjawab pertanyaanku dengan santai.
    ‘’Kalau sama Agnes gimana, enak hangoutnya?’’ aku kembali mengintrogasi kakak ku ini.
    ‘’Indi ..Indi ..aku yang jalin hubungan sama Silvia, sekarang malah kau yang sewot.’’ Jawabnya sambil tertawa renyah.
    ‘’Apanya yang lucu kak, kakak coba bayangin saat Silvia nungguin kakak di depan mall sampai 4 jam, kakak batalin cuma gara –gara ajakan dinner dari Ayu, padahal yang buat janji kan kakak ,kakak yang minta untuk nunggu sampai kakak datang .’’Ujarku panjang lebar .
    ‘’Tapi dia enggak apa-apa kan?’’ tanyanya dengan enteng .
    ‘’Hah ..baru kali ini aku nemuin cowok songong kayak loe,coba kakak bayangin seorang cewek harus kehujanan tengah malam karena ajakan malmingan yang enggak jelas , kakak kenalin dia didepan gebetan kakak sendiri , kakak bilang dia adik sepupu , tapi Silvia nerima aja diperlakukan kayak gitu sama cowok bajingan seperti Rizky Perdana yang dihadapan aku sekarang.’’Aku kembali memarahinya dengan segudang keluh kesahku .
    ‘’Sekarang kan dia nerima aja diperlakukan kayak gitu, jadi bukan salah aku dong Indi.’’ Rizky berlalu dan meninggalkanku begitu saja .

    Di sekolah aku kembali berdebat dengan Silvia .

    ‘’Loe  harus putusin kakak  aku sekarang Silvia please .’’ Aku langsung menghampirinya dengan wajah dongkol .
    ‘’Gue tahu semuanya, soal semua teman –teman cewek kakak mu, dia bilang cuma teman kok, terus kalau soal kesetiaan ,gue harus percaya sama dia .Karena cinta itu memang harus setia Indi , aku percaya dia setia sama aku .Kalau dia sayang sama aku pasti dia setia. Tapi kalau enggak aku tetap terima ,karena aku sayang sama dia.’’

    Jawaban Silvia membuatku gusar ,siapa yang harus disalahkan aku pun tak mengerti  .Atau aku yang terlalu ikut campur urusan mereka .

    Rizky kalau urusan wajah memang dia ganteng ,urusan akademik juga ia mapan ,jurusan tehnik di salah satu universitas terkenal . Masih muda udah punya penghasilan ,punya usaha toko sepatu yang dia kelola dari SMA .

    Pantes banyak yang suka , gumamku lirih .

    Aku kembali memarkirkan kereta di halaman rumah , saat yang bersamaan itu , aku melihat seorang wanita cantik duduk dekat kakakku

    seperti biasa mereka bergandeng mesra dan  sama –sama tertawa dengan senangnya sambil  bercanda mesra .

    ‘’Heran ya gue lihat loe , kenapa saat hubungan loe lagi renggang bisa-bisanya deketin Agnes.’’

    Kakaku diam dan tak menjawab .

    Keadaan itu makin memperburukku , saat aku tahu kedekatan Rizky dengan Agnes melebihi Silvia .

    Aku hanya memeluk sahabat ku itu dengan erat .

    ‘’Silvia , masih banyak masa depan ,hari-hari mu masih cerah ,yang mencintai kamu juga banyak ,kenapa kamu pilih dia .’’
    ‘’Entah lah , gue juga gak tahu Indi ,tapi dia yang aku cari ,aku terima kekurangannya , aku terlanjur mencintainya ,terlanjur mencintai apa yang ada padanya , terlanjur menyimpan cinta dan rela membaginya .’’
    ‘’Walaupun aku belum pernah pacaran , aku enggak mau hal itu terjadi sama aku , aku pingin seorang yang sayang tulus dari hatinya dan mencitai kekurangan dan kelebihan yang aku punya , tapi tidak untuk membaginya , aku rasa kamu terlalu bodoh Silvia.’’Ujarku semakin gusar dan marah terhadap sahabat kental ku ini .

    Aku menceritakan itu kepada papa dan Mama , tetapi responnya selalu dengan cemoohan ‘’biasalah namanya juga ABG.’’kata mereka diselingi suara tawa diantara mereka .

    Aku hanya memikirkan kakakku sekarang ,selarut ini ia belum pulang juga ,kemana saja ia dengan Agnes ? pertanyaan itu menggelayut dipikiran ku sekarang .

    Ketika ia pulang, aku langsung menyodorkan pertanyaan kepada kakakku ini .

    ‘’Jadi orang jangan terlalu gaul gak bagus juga , bawa cewek terlalu larut jam segini , kemana aja ?’’
    ‘’Biasalah , anniversary yang ke3 tahun , jadi sebenarnya sebelum sama Silvia ,aku punya Agnes.’’ Ujarnya dengan bangga .
    ‘’Awas kebablasan aja lah , longlast aja deh .’’

    Selama sebulan ini ,kakakku selalu pulang larut malam , hingga Silvia pun menanyai kabarnya .

    Dia tahu kalau Rizky pacaran dengan Agnes , tapi dia hanya bersikap santai seolah tidak terjadi apa –apa.

    Hari ini , adalah hari yang sangat buruk ,bagi keluarga kami .

    Ketika aku memarkirkan kereta ke halaman rumah , aku tidak melihat seorang pun di rumah .

    Aku terus melangkahkan kaki ,hingga ke kamar kakakku Rizky .

    Kutemukan , mama yang menangis tersedu memeluk kakak ,seorang papa yang bijak ,kini hilang kesabarannya.

    ‘’Ada apa ini ?’’ Tanyaku di hadapan mereka .
    ‘’Kamu perlu tahu Indi , Orangtua Agnes tadi datang kesini ,Agnes bilang kalau dia hamil.’’

    Setengah mati  aku menahan marah kepada kakakku .

    Wajar papa marah ,dengan wajah emosi ia lampiaskan dengan pukulannya yang kasar .

    Aku yang menatap mata kakakku gusar , aku berlari ke kamar  sambil menahan tangis .

    Saat semuanya reda ,aku kembali menghampirinya ,

    ‘’Loe udah buat aku kecewa , dan satu lagi Silvia ,cepat atau lambat putusi ia sekarang ,sebelum dia gila gara-gara mikirin loe .’’ Aku langsung meninggalkannya dengan kesedihan yang mendalam .

    Di taman belakang sekolah ,tempat biasanya mereka bertemu ,Rizky dengan wajah yang teryunduk sedih mengutarakan maksudnya yang mendalam .

    Tak rela Ia berpisah , tetapi kesalahan-kesalahannya lebih sulit diterima daripada kata ‘’maaf’’.

    Silvia kembali terdiam dan sesekali menatap mata elang yang selalu menunduk sedih .

    ‘’Kali ini , aku harus berpihak kepada Agnes , you have responsibility to her.’’Silvia menjawab pelan .
    ‘’Silvia , aku masih cinta sama kamu ‘’.Rizky masih dalam keadaan menuduk
    ‘’Cinta itu harus ditewaskan ,selagi masih ada yang lebih penting .’’

    Silvia kembali terdiam ,dan kembali menatap Rizky sambil menahan air mata yng mulai mengalir dari pipinya.

    ‘’Silvia ,aku mau kamu benci sama aku , kalau perlu hina aku.’’Ujar Rizky sambil memegang tangan Silvia .
    ‘’Terima kasih untuk semuanya , kamu lebih buruk dari orang yang ku maki selama ini ,aku hanya minta satu hal ,jangan dekatin aku lagi dan sayangi Agnes ,jangan buat hatinya terbagi , jangan buat dia mengeluh tentang kesetiaan .’’

    Lalu Silvia pergi meninggalkannya tanpa kata yang indah .Tapi pelajaran yang berharga tentang kesetiaan dan tanggung jawab .

    ‘’Tuhan aku menyesal  …’’ hatinya menjerit didalam temaram sunyi.

    Profil Penulis:
    Nama: Mutia Irhamni
    Facebook : Mutia Irhamni

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar