• Artikel Terbaru

    Senin, 27 Februari 2017

    Cerpen Lucu - Cinta 3 Detik

    Berikut ini adalah sebuah cerpen lucu yang dituliskan oleh pembaca yang bernama Baiq Mega Yustika Kharomah dengan judul Cinta 3 Detik. Silahkan dibaca sampai selesai yah :

    CINTA 3 DETIK
    Karya Baiq Mega Yustika Kharomah

    Semilir angin mengiringi langkah kecil gadis 16 tahun, Trisha Fianda. Debur ombak membasahi telapak kakinya yang terbalut sneaker berwarna tosca. Ia berjalan di antara hamparan pasir putih nan indah bersama teman-teman SMPnya dulu. Sebuah momen yang sangat langka mengingat Trisha pulang sekali setahun karena melanjutkan studi di luar kota. Teman-temannya sudah berada di ujung pandang, sedangkan gadis itu melangkah dengan pelan dan masih jauh tertinggal di belakang mereka.
    “Sha! Cepetan!” Seru Etha, sahabat karib Trisha sejak SD.

    Trisha menatap ke depannya dan melihat Etha melambai-lambaikan tangannya dengan ekspresi agak datar.
    “Iya!! Tunggu aku!”

    Selanjutnya, Trisha berlari kencang dengan merentangkan tanganya untuk merasakan sensasi segar yang telah lama diidam-idamkannya.
    “Ahh... Lombok... Tiang melek side!”Teriaknya keras-keras. Senyumannya melebar saking gembiranya.
    “Lo kok lama banget sih jalannya.. Kasian anak-anak nungguin Lo doang..”Ungkap Vhia saat Trisha telah sampai di tempat mereka menunggu.
    Trisha menunduk, ia tampak bersalah.
    “Nggak. Nggak apa-apa kok. Lagian kan, Lo bakalan bentar doang di sini. Jadi, kita janji nggak bakalan bikin Lo merasa bersalah kayak gini..”Kata Vhia lagi. Kali ini dengan tersenyum manis.
    “Ahh... Thanks kawan...”Ujar Trisha berterimakasih.
    “Iya iya..”Ujar Vhia.

    Mereka kembali berjalan di tengah-tengah lapisan pasir pink khas pantai Tangsi atau pantai yang biasa disebut pantai Pink. Menikmati sejuknya angin laut selatan pulau Lombok yang begitu merilekskan pikiran. Putih, biru muda, biru tua, gradasi air laut di pantai itu, membuat pemandangan jadi begitu menenangkan jiwa dan raga. Buih-buih ombak seakan sebagai pelengkap sempurna untuk pantai yang masih ranum itu.

    “Abis ini, gimana kalo ke Tanjung Ringgit aja? Kan deket tuh..”Ujar Etha.
    “Gue sih mau-mau aja. Masalahnya ini udah jam setengah empat, belum ke sananya, belum perjalanan pulang, bisa-bisa, kita berbukanya di jalan.”Jawab Trisha.
    “Iya. Trisha ada benernya juga tuh!”Seru Amonk menyetujui.
    “Bener!”Ungkap Bayu pula.
    “Terus? Sekarang kita langsung pulang?”Tanya Zulhan pada teman-temannya.
    “Enggak!!”Vhia langsung menolak.
    “Emang kenapa?”
    “Terus kita mau ngapain?”
    “Kita foto-foto dulu lah!! Rugi kalo nggak ada documenternya..”Jawab Vhia.
    “Oke!”Koor semua orang di sana.

    Amonk sekarang sedang mencari target untuk dijadikan fotografer mereka. Dengan modal wajah lumayan, tubuh tinggi dan senyuman menawan, dengan cepatnya Amonk mendapatkan mangsanya.
    “Mau nggak Lo bantuin Gue?”Tanya Amonk pada sekumpulan gadisyang berkerumun di stan minuman.

    Semua gadis di sana terpana akan ketampanan Amonk. Beberapa dari mereka malah salah tingkah dan memasang wajah manis yang dibuat-buat.
    “Iya! Pasti. Lo mau gue ngapain? Gue siap bantu Lo kok..”Jawab salah satu gadis.
    “Gue minta tolong, fotoin Gue sama temen-temen Gue. Mau kan?”
    “Iya. Demi Lo, apa sih yang nggak...”

    BERHASIL!  Seru Etha dan yang lainnya. Mereka memang  mempercayakan hal seperti itu pada Amonk, karena dia begitu cepat menarik hati gadis-gadis.
    “Noh, kan! Berhasil lagi!”Seru Vhia bangga.

    Amonk dan gadis itu berjalan ke arah Etha dan kawan-kawan. Trisha kemudian memberikan kamera DSLRnya pada gadis itu untuk memfotonya dan kawan-kawannya.

    “Siap! 1...2...3...”
    JEPRETTT!!

    Sebuah hasil foto yang menawan, ditambah landscape yang juga cantik di belakang mereka. Setelah kepergian gadis itu, mereka semua langsung bergegas untuk pulang.

    ~                        ~                        ~

    Suara lantunan takbir bergema di mana-mana. Masjid, Musholla, Stan-stan kecil, warung, toko, bahkan pusat perbelanjaan juga memutar lagu-lagu khas lebaran.

    Malam ini adalah malam takbiran. Di desa tempat Trisha tinggal, ada tradisi keliling kampung dengan membawa obor dan bersama-sama meneriaki para penonton yang ada di seluruh sisi jalan dengan lagu-lagu religi.

    Trisha berkumpul bersama Amy, Nanny, dan Maysa di depan kios milik tantenya Amy. Mereka berempat sering di sana untuk melihat-lihat keadaan jalanan yang padat oleh pejalan kaki.
    “Lo nyari siapa sih Sha? Kok dari tadi ngelirik sana-sini mulu...”Selidik Amy saat ia menangkap Trisha sedang sibuk dengan misi tengak-tengoknya.
    “Nggak. Gue nggak nyari siapa-siapa kok..’’
    “Oh.. Kirain...”

    Tak berselang beberapa lama, Trisha termenung. Hatinya benar-benar berdegup kencang. Kini, ia tak bisa mengatur nafasnya. Di depannya benar-benar ada seseorang yang telah lama ingin ditemuinya. Dia...Dia... adalah pangeran yang telah lama hilang dari hadapannya. Wajahnya tak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Kulit putih, tinggi, hidung yang mancung, serta bibir yang tipis dengan warna merah muda alami, membuat hati Trisha berdegup semakin kencang.
    “Aish... Dia makin kece aja.”Gerutu Trisha di dalam hati.
    “Sha!”Teriak Ardian, teman SD Trisha yang juga satu rombongan dengan pangerannya itu.
    “Haa?? Apa?”Sahut Trisha. Ia merapikan jilbabnya yang agak amburadul karena diterjang angin malam.
    “Gue minta file buber kemarin, ya?”Teriaknya dari seberang jalan.
    “Iya.. Besok ya? Udah ada di Flashdisk Gue, kok!”
           
    Trisha melihat ke arah Ardian, namun sesekali, ia mengintip pangerannya yang berada di belakang Deny dan Ardian.
    “Ya ampun! God! Help me! Dia bener-bener pangeran Gue! Dia kece! Dia keren! Dia mancung! Dia bisa melengkapi kekurangan Gue yang pesek!” Teriak Trisha dalam benaknya.
    “Sha? Gue ngefans sama itu.. yang dibelakang!!”Bisik Nanny saat Ardian, Deny, dan Alvin telah hilang dari pandangan mereka.
    “Siapa?”Tanya Trisha.
    “Namanya kalo nggak salah Alvin, ya? Katanya Deny, Lo dulu pas SD akrab banget sama dia. Sampe udah kayak adik-kakak... Bener?”
    “Iya. Itu dulu. Dan masalah adik-kakak, kami memang kayak gitu...”
    “Iyakah? Terus dulu, Lo nggak pernah punya perasaan, gitu?”
    “Nggak.”Jawab Trisha berbohong.
    “Ya ampun Sha. Lo bodoh banget sih!! Coba dulu lo deketin dia terus.. dia kan ganteng..”
    “Hmm... Gue..”
           
    Belum sempat Trisha meneruskan kata-katanya, Maysa juga menyela pembicaraannya.
    “Iya Sha. Dia kece banget! Hidungnya juga mancung! Putih. Salah mirip kayak Chicarito lagi...”
           
    Trisha sebenarnya menyukai Alvin sejak kelas 5 SD. Namun, ia hanya menyimpan perasaannya hingga suatu ketika Alvin pindah rumah dan harus meninggalkannya sendirian.
    “Bener? Masa Lo nggak pernah punya rasa sama cowok se-kece Alvin?”Nanny terus menginterogasi Trisha.
    “Iya..”
    “Baguslah!! Pokoknya, Gue harus bisa deketin dia!!”
           
    Tolong jangan deketin Alvin! Udah cukup 6 tahun Gue nyembunyiin perasaan Gue dari Alvin. Dan sekarang Lo mau ngedeketin dia? Nggak! Gue nggak sudi! Alvin harus deket sama Gue dulu sebelum sama Lo, karena Gue lebih tahu banyak tentang Alvin daripada Lo, Secret Admirer amatir!! Omel Trisha dalam hati.
    “Eh.. Ayo! Kita ke kontingen yuk! Pawai obornya bentar lagi dimulai..”Ajak Maysa.

    Mereka menapakkan kaki menuju depan stage di kantor desa. Kontingen mereka mendapat giliran nomor satu. Jadi, beberapa saat lagi, mereka akan jalan. Sambutan demi sambutan masih berlangsung. Semua orang memperhatikan setiap tokoh masyarakat yang memberikan kata sambutan. Tentu semua orang kecuali Trisha. Yang benar saja, ia masih sibuk memandangi Alvin, Pangeran di masa lalunya yang berdiri gagah di dekat jalan bersama teman-temannya.
           
    Pikiran Trisha melayang-layang. Ia membayangkan jika ia dan pangerannya itu bisa menjadi sebuah pasangan serasi. Ia hitam manis, sedangkan sang pangeran putih. Ia pendek, sedangkan Alvin bertubuh tinggi. Ia pesek, sedangkan pria itu mancung. Benar-benar pasangan yang saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan.

    Lamunan Trisha pecah, saat panitia menyuruh kontingennya berbaris rapi dan memulai perjalanan.
           
    Di perjalanan, Trisha sibuk mencari The Lost Prince-nya. Ia menengok ke sana kemari, namun tidak melihat batang hidung mancung sang pangeran. Ia akhirnya menyerah dan melanjutkan langkahnya tanpa memikirkan Alvin.

    ~                        ~                        ~
           
    ALLAHU AKBAR...
            ALLAHU AKBAR...


    Alunan takbir lebaran berdengung di sepenjuru desa. Trisha cepat-cepat berlari ke masjid untuk mengikuti sholat ied bersama di Masjid Jami’ Fathul Mubin.

    Sholatpun dimulai. Seketika, semua sunyi dan tak terdengar suara apapun kecuali suara imam yang melantunkan bacaan-bacaan Al-Quran.

    Setelah sholat ied, Trisha dan Amy dengan bersemangat keluar dari masjid dan berniat untuk ikut salam-salaman khas desanya. Semua pria berjejer sepanjang jalan TGH. Moh. Mutawalli untuk bermaaf-maafan dengan wanita-wanita yang berjalan dan bergantian bersalam-salaman.

    Trisha sekali lagi sibuk mencari keberadaan pangerannya. Mana dia? Hey, boy? Where are you now? Ia melepaskan pandangannya ke semua orang di sana. Dan..
    “Hey! Itu dia!”Gumamnya bersemangat.
           
    Trisha mempercepat langkahnya menuju Alvin, Ardian, Deny, Galih, dan Aldi. Mereka berlima berada di deret yang berdekatan. Jadi, tidak akan ketahuan jika Trisha hanya ingin bersalaman dengan sang pangerannya itu.
    TEPPP!!!

    Trisha sekarang benar-benar berada di depan sang pangeran. Ia bisa melihat dengan jelas wajah sang pujaan hati yang sangat ia dambakan.
    “Gue sekarang ngapain? Ahh.. Pake acara deg-degan pula!!”Kata Trisha dalam diamnya.
           
    Setelah lama diam dan tak melakukan apapun seperti orang idiot, Trishapun mengulurkan tangannya. Trisha menatap pujaan hatinya itu lekat-lekat karena ini termasuk peristiwa langka dalam hidupnya
    1 detik... Tangannya lembut! Gue pengen megang tangan ini selama mungkin! Oh tuhan, buat tangan ini menyentuh tangan Gue lebih lama lagi.
    2 detik... Senyum! Dia ngasi Gue senyum! Senyum yang gue cari-cari selama 6 tahun ini! Aisshh... Gue harus senyum!! Gue harus senyum!
    3 detik... Oh... Apa ini yang namanya cinta 3 detik?


    Semua lenyap. Keromantisan yang berlangsung hanya 3 detik saja telah berakhir dengan harapan Trisha yang menggantung. Ia hanya ingin menatap dalam-dalam The Lost Prince-nya itu selama mungkin ia bisa, namun takdir mengatakan lain. Hati yang berdegup-degup, darah yang terasa mengalir lebih cepat dari biasanya, kisah romantisnya, dan cintanya, berakhir dalam waktu 3 detik saja.

    Ini memang kisah tentang perjalanan asmara Trisha yang harapannya terwujud walau hanya 3 detik. Tapi di sisi lain, kisahnya juga berakhir karena 3 detik itu.

    Sejak saat itu, karena harapannya dapat bertatap muka dengan The Lost Prince-nya, Trisha memutuskan untuk tidak memikirkan sosok itu lagi. Walau itu pasti akan sangat sulit baginya. Karena, Pangerannya itu, sudah terlalu banyak memberi kenangan indah padanya di masa lalu. Namun, ia benar-benar berjanji untuk berhenti mencintai sosok itu lagi.

    Cinta yang gue alami..
    Cinta yang gue tunggu selama 6 tahun ini...
    Berakhir... 3 detik saja...

    Profil Penulis:
    Nama : Baiq Mega Yustika Kharomah
    Askot : Lombok Timur, NTB.
    FB : Ega
    Twitter : @bmykh_

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar